Simulasi jumpa pers yang dilakukan Satker sukses dilaksanakan di depan 22 wartawan dari 10 provinsi. Salah satu sesi pelatihan bagi pelaku PNPM Mandiri dalam "Pelatihan strategi berkomunikasi dengan media" adalah simulasi jumpa pers. Kegiatan ini langsung dilaksanakan dihadapan 22 wartawan dari 10 provinsi dan hasilnya diluar dugaan. Demikian diungkapkan oleh Dessy Mutialim, konsultan dari PNPM Support Facility (PSF) di Denpasar, Bali, Kamis (29/7 2010). "Sangat membanggakan, dalam jangka waktu satu setengah hari, para peserta dapat menggelar jumpa pers dengan baik," ungkap Dessy.Hal serupa diungkapkan oleh salah satu fasilitator dari pelatihan tersebut, Febrina Siahaan. Menurutnya, hasil yang ditunjukkan dalam simulasi tersebut jauh lebih bagus dari yang diharapkan. "Saya sebagai pelatih merasa senang. Mereka dapat menyampaikan informasi dengan cukup baik dan mengelola wartawannya," ujar Febriana.
Namun demikian febriana mengingatkan bahwa hal itu hanya sebagai simulasi. Wartawan masih bertindak sopan, pertanyaan yang diajukan juga masih wajar. "Saya selalu berbicara ekstrim. Tadi memang bagus, namun ini hanya simulasi. Jadi, kita juga harus siap-siap menghadapi kenyataan bahwa wartawan bisa saja bertanya atau bersikap ekstrim, yang mungkin diluar dugaan kita sekarang ini," ungkapnya.
Para wartawan yang menghadiri sesi simulasi tersebut juga memberikan apreasiasi. Namun, para wartawan menghendaki penyampaian informasi tidak terlalu bertele-tele atau to the point. rekan-rekan wartawan masih melihat penyampaian informasi terlalu berhati-hati dan nampak fobia. "Padahal jangan kuatir, jangan takut, kami baik dan bersedia bekerjasama," ujar Agustin Purnawan dari Radio Mara, wakil jurnalis dari Jawa Barat.
Dalam pelaksanaannya, simulasi tersebut didukung dan dikerjakan bersama dengan konsultan PNPM Mandiri. Melihat kenyataan tersebut Febriana mengatakan bahwa pelaku PNPM Mandiri tidak ada adalan untuk merasa takut berhadapan dengan media massa, apalagi menghindari wartawann karena paradigma wartawan itu cenderung menyampaikan informasi negatif. "Semua itu tergantung bagaimana cara kita menyampaikan dan mengemas informasinya," imbuh Febriana.